0

Grup yang Lahir Dengan Nama Raja Garuda Mas Ini Menjaga Operasi Perusahaan Dengan Kerangka Kerja Keberlanjutan

RGE Melakukan Pembukaan Lahan Perkebunan Kelapa Sawit

Sumber Gambar : www.asianagri.com

Lahir dengan nama Raja Garuda Mas, Royal Golden Eagle (RGE) memiliki prinsip berbeda. Mereka memandang keberlanjutan sebagai hal vital. Itu yang mendorong mereka merilis kerangka kerja untuk memastikan semua dijalankan.

Royal Golden Eagle melakukannya atas dorongan pendiri sekaligus Chairman, Sukanto Tanoto. Ia merintis RGE pada 1973. Kala itu, perusahaannya bernama Raja Garuda Mas dengan bidang industri kayu lapis.

Namun, kini Royal Golden Eagle telah menjadi korporasi dengan basis industri pemanfaatan sumber daya. Mereka telah meninggalkan sektor kayu lapis dan ganti beroperasi di bidang kelapa sawit, pulp dan kertas, selulosa spesial, serat viscose, serta minyak dan gas.

Sukanto Tanoto memandang penting kelestarian alam. Oleh karena itu, ia mencanangkan kerangka kerja keberlanjutan untuk industri kehutanan, serat, serta pulp dan kertas.

Royal Golden Eagle meluncurkannya sejak Juni 2015. Lewat hal tersebut, RGE diharapkan terus bisa menjalankan operasi yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Secara garis besar, ada empat komitmen utama dalam Kerangka Kerja Keberlanjutan di tubuh Royal Golden Eagle. Keempatnya sudah mencakup sejumlah aspek penting perlindungan alam sesuai dalam bidang yang digeluti oleh RGE.

Komitmen pertama ialah memastikan tidak ada praktik deforestasi di tubuh perusahaan. Royal Golden Eagle berkomitmen tidak pernah membuka hutan untuk kepentingan produksinya.

 Tekad itu disusul oleh upaya keras untuk menjalankan praktik-praktik terbaik perkebunan terutama yang berada di lahan gambut. Tindakan itu dibarengi dengan langkah-langkah perlindungan hutan di sekitarnya.

Hal kunci berikutnya dalam kerangka kerja keberlanjutan di tubuh RGE berkaitan dengan masyarakat. Grup yang lahir dengan nama Raja Garuda Mas ini bertekad untuk menghormati hak-hak warga asli di sekitarnya. Selain itu, mereka juga proaktif dalam mendukung perkembangan kesejahteraan orang-orang di daerah operasionalnya.

Adapun komitmen terakhir di kerangka kerja keberlanjutan menyangkut internal RGE sendiri. Mereka menjamin akan membuat kondisi kerja di areanya nyaman dan aman untuk karyawannya. Hal itu diharapkan bisa secara kondusif membuat karyawan berkembang dan berkontribusi besar untuk perusahaan.

Kerangka kerja itu akhirnya menjadi panduan bagi semua pihak di RGE untuk memastikan operasional perusahaan ramah terhadap alam. Selain visi dari pendirinya, Sukanto Tanoto, komitmen itu lahir dari filosofi bisnis perusahaan.

Sebelumnya Sukanto Tanoto telah merilis filosofi bisnis RGE yang dikenal sebagai prinsip kerja 5C. Diharapkan hal tersebut bisa menjadi arahan kerja bagi semua pihak di tubuh RGE.

Secara garis besar, filosofi bisnis 5C berisi kewajiban bagi RGE untuk berguna bagi berbagai pihak. Mereka diharuskan memberi manfaat kepada internal perusahaan, pelanggan, masyarakat, hingga negara.

Namun, melihat kerusakan alam terus terjadi, akhirnya ditambahkan keharusan untuk aktif menjaga keseimbangan iklim. Inilah yang menjadi dasar utama kehadiran kerangka kerja keberlanjutan tersebut. Melaksanakannya berarti dua hal sekaligus dilakukan, yakni melindungi alam sembari menjalankan filosofi bisnis perusahaan.

Kendati baru diluncurkan sejak 2015, bukan berarti sebelumnya RGE tidak melakukan perlindungan alam. Praktik terbaik untuk lingkungan sudah mereka lakukan sejak dulu. Hal itu terbukti dari berbagai sertifikasi keberlanjutan yang diperoleh oleh anak-anak perusahaan RGE sejak lama.

Sebagai contoh adalah langkah yang diambil oleh Asian Agri dan Apical. Anak-anak perusahaan RGE yang beroperasi di industri kelapa sawit ini  sudah menandatangani Sustainable Palm Oil Manifesto (SPOM).

Perlu diketahui, SPOM adalah komitmen untuk tidak melakukan deforestasi di kawasan dengan Nilai Stok Karbon tinggi. Selain itu, pihak yang menandatanganinya  juga wajib menjaga transparansi dan keterlacakan jalur suplai bahan bakunya. Mereka pun diharuskan untuk melakukan perlindungan di lahan gambut.

Selama ini, standar SPOM dirasa lebih tinggi dibanding sertifikasi lain seperti Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO). Padahal, RSPO sudah menjadi rujukan bukti praktik keberlanjutan dalam industri kelapa sawit. Kebetulan Asian Agri dan Apical telah menjadi anggota RSPO.

AKSI-AKSI LAIN SEBELUMNYA

Hasil dari Konservasi Lahan oleh Raja Garuda Mas

Sumber Gambar : www.inside-rge.com

Penandatangan SPOM bukan satu-satunya hal yang dilakukan oleh Asian Agri dan Apical. Asian Agri misalnya. Mereka telah menandatangani Indonesian Sustainable Palm Oil Pledge (IPOP).

IPOP sejatinya adalah sebuah inisiatif dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Mereka merilisnya pada September 2014. Dengan kehadiran IPOP, Kadin bermaksud membuat persetujuan dengan para pemain penting industri kelapa sawit. Tujuannya supaya perusahaan meningkatkan perlindungan alam dan menjalin kerja sama dengan para pemangku kepentingan supaya pemerintah bisa merumuskan kebijakan terbaik.

Komitmen IPOP memang berdampak besar dalam perlindungan alam. Sebab, dalam IPOP, sekitar 60 persen produk kelapa sawit global akan dipastikan terbebas dari praktik deforestasi.

Lain lagi dengan langkah yang diambil oleh Apical. Pada 2014, mereka menandatangani New York Declaration on Forests. Ini adalah komitmen yang dibuat oleh pemerintah, perusahaan-perusahaan multinasional, dan penggiat lingkungan untuk menyelamatkan kepunahan hutan alam pada 2030 nanti. Momen tersebut menjadi bagian dari pertemuan Perserikatan Bangsa-Bangsa terkait iklim di dunia.

Selain aksi yang dilakukan pada masa lalu, kerangka kerja keberlanjutan juga menjadi penanda sejumlah kegiatan lain yang dijalankan oleh RGE. Grup APRIL misalnya. Sesudahnya mereka segera merilis prinsip pengelolaan hutan lestari.

Pada Juni 2015, APRIL merilis kebijakan Sustainable Forest Management Policy 2.0 (SFMP 2.0). Ini merupakan upaya anak perusahaan RGE yang bergerak dalam industri pulp dan kertas tersebut untuk menjalankan praktik terbaik untuk alam. Selain itu, dengan itu, mereka berkomitmen untuk memberi manfaat bagi lingkungan di sekitarnya baik dalam skala lokal, nasional, hingga global.

Langkah yang dilakukan oleh APRIL bukan hal baru. Mereka memang sudah sejak dulu konsisten menjaga alam dalam operasionalnya. Sebelum SFMP 2.0, APRIL lebih dulu merilis SFMP 1.0.

Komitmen itu semakin mempertegas APRIL sebagai pelopor keberlanjutan di industri pulp dan kertas di Indonesia. Sejak tahun 2000, mereka mempelopori transparansi rantai produksi di dalam negeri. Kala itu, APRIL merilis penjagaan bahan baku. Ini merupakan upaya untuk menjaga supaya tidak ada kayu ilegal yang dipakai sebagai bahan baku.

Lima tahun sesudahnya, APRIL kembali membuat gebrakan. Kali ini mereka mempelopori penilaian hutan hujan di area konsesinya. Langkah itu merupakan upaya perlindungan hutan alam di kawasan operasionalnya.

Sebagai tambahan, APRIL akhirnya melakukan perlindungan terhadap lahan seluas 250 ribu hektare di area konsesinya. Mereka juga mendukung upaya restorasi ekosistem melalui Restorasi Ekosistem Riau.

Berbagai langkah itu dijalankan sebagia bentuk implementasi Kerangka Kerja Keberlanjutan RGE secara nyata. Selain itu, hal yang paling utama adalah menjaga operasional perusahaan agar selalu ramah terhadap lingkungan.

Apuy

Berdoa, Berusaha dan Tawakal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *